Tuesday, July 19, 2011

5. Di balik gelap ruangan

so am I, still waiting, for this world to stop hating.
can't find a good reason, can't find hope to believe in.


sepenggal lirik lagu Sum 41 berjudul still waiting berkumandang dari komputernya. saat adegan itu kembali lagi ke dalam lamunannya. tak berteman, hanya sepi. sekedar menikmati sendirinya, lalu datang bagaikan peluru yang dimuntahkan moncong senjata dan melesat langsung ke kepalanya. di dalam sebuah ruangan, semuanya terekam dan semuanya diputar kembali. hanya ruangannya yang berbeda.

pria kecil yang ingin menangis tapi tak ingin air mata. duduk bersandar pada pintu kamarnya. mendengar teriakan dan luapan emosi pada meja makan, kursi, dan pada ruangan yang jelas tak bersalah. sesuatu yang entah apa sengaja membangunkannya, memaksa si kecil membuka sedikit pintu kamarnya dan melihat salah satu rahasia malam.

"kami hanya tak sengaja bertemu. dia sedang berkunjung dan aku hanya sekedar menyapa" jelas ayah tenang.
"sekedar itu tidak duduk bersebelahan sambil tertawa dengan gelas kopi di atas meja" sambil menahan teriakan dan air matanya. wajah ibu yang tak pernah dia lihat sebelumnya.

"siapa yang berkunjung?" entah kepada siapa dia bertanya. ruangan gelap yang tidak mungkin menjawab.

"layaknya kawan yang lama tidak berjumpa, bercerita masa lalu. pasti lah tertawa" jelas ayah.
"lalu kau antar dia pulang? memangnya tidak bisa pulang sendiri?" ibu menaikkan nada bicaranya.
"kami kan tidak berdua. ada tiga orang lagi disana"
"tapi kenapa harus dia didepan?" wajah merahnya jelas menunjukkan sesuatu yang semakin kuat ditahan.
"yang tiga itu pria, dia wanita sendiri. tak ada salahnya kupikir" hampir tidak mampu sepertinya ayah menahan marahnya.
"salah lah, kenapa tidak di belakang saja dia. atau tidak perlu ikut sekalian" ucapan ibu mengakhiri percakapan malam itu. ayah melangkah keluar rumah sedikit terburu, ingin menghisap beberapa batang rokok sepertinya. ibu masuk kamar dan terdengar mengunci pintunya.

si kecil bersembunyi di balik bantalnya, di balik rasa terkejut dan air mata yang masih tertahan. di balik pertanyaan, di balik gelap ruangan.

"kenapa aku harus melihatnya? umurku sebelas tahun. kenapa malam tidak biarkan saja aku beristirahat?" pertanyaan yang entah kapan terjawab. atau tidak akan?

sebuah cafe sederhana hasil usaha mereka adalah tempat kejadian perkaranya. yang datang berkunjung adalah teman-teman SMA ayah. ibu baru kembali dari rumah temannya di seberang jalan saat ayah melaju dengan mobilnya. malam memaksa ayah untuk mengantarkan temannya terutama yang wanita pulang. "kenapa malam selalu memaksa?" pikirnya.

seminggu setelah malam itu, suara lembut ibu menyadarkannya. pukul sepuluh malam dan sebuah pertanyaan. "kamu mau ikut siapa?" si kecil ingin menangis tapi tidak suka air mata. tetap saja tetesannya memaksa melepaskan diri. "bisakah aku tidak menjawab?" bertanya dia dalam hati.

Dilan dan Diana adalah alasan ayah dan ibu tidak jadi berpisah. hampir seminggu penuh mereka habiskan waktu dengan pertengkaran di cafe, dan membawa dampak yang cukup besar untuk usaha yang mereka rintis sejak masih pacaran dulu. pertengkaran kecil yang berdampak sangat mengerikan yang terjadi di waktu dan tempat yang salah.

ibu membuka toko kecil di depan rumah baru mereka yang juga lebih kecil dari rumah yang lama. tidak ada yang ingin bekerja sama dengan ayah lagi karena takut kejadian mengerikan itu akan terulang. tidak ada lagi antar jemput sekolah dengan mobil. menyisakan dua sepeda kecil untuk Dilan dan Diana. saat itu, Diana yang masih berumur tujuh tahun jelas tidak mengerti, dan dengan sangat hati-hati mereka menjaga agar dia tidak pernah tau. "mobil ayah sedang ada di bengkel" kata ayah kepada Diana.


wanita yang sama, dan dia datang lagi, menawarkan kerjasama kepada ayah. seperti menyulut selembar kertas dengan sebatang korek api. dan panas setiap ruang kecil di setiap sudut rumah.

"kita sudah cukup baik seperti ini, tak perlulah dia" ibu jelas tidak setuju.
"tapi ini kesempatan yang bagus, seperti dulu lagi" kata ayah seakan memohon.
"ya, seperti dulu lagi. saat dia datang dan merusak semuanya. mau sampai mana kau biarkan dia merusak hidup kita?" langkah kaki memenuhi ruangan. dari depan ke dapur, lalu ke depan lagi, dan ke dapur lagi.
"lihat sisi baiknya. dia akan mengembalikan kejayaan kita" ayah menjelaskan sedikit kesal.
"lihat sisi buruknya, dia akan membawamu pergi. tak mungkin lah tanpa alasan dia membantu"

si kecil sudah tiba di usia delapan belas, dan hampir setiap hari selama sebulan mendengarkan pembicaraan ini. sepulangnya dia dari rumah kawannya, lewat pintu belakang. melihat Diana menangis di sudut kamarnya, menenangkannya lalu melangkah keluar.

"bisa kalian hentikan? Diana takut" kata Dilan mengagetkan mereka.
"tenang nak, sebentar lagi selesai" kata ayah sebelum melanjutkan lagi pertikaiannya.
"lebih baik dihentikan sekarang" dan meletakkan tangannya di kursi makan yang terbuat dari kayu jati.
"diamlah sebentar nak, biar kami selesaikan ini" lalu kembali lagi pada pertikaian.

mengangkat kursi kayu yang cukup berat, melangkah ke tengah ruang lalu Dilan berteriak "hentikan sekarang, atau aku hancurkan rumah ini" sepertinya televisi menjadi sasaran pertamanya.
"aku lelah mendengar kalian, dan aku tak ingin kalian menakuti Diana. hentikan atau sekalian saja ku bikin tambah ramai" mendadak semua terdiam, begitu tenang. suara isak tangis Diana dari kamar dan suara nafas mereka mengisi penuh rumah itu.

lagu berjudul with me dari Sum 41 membuyarkan lamunannya, membuatnya sadar bahwa dia terlalu lelah untuk menelusuri kelanjutan ceritanya.

dia tetap pria kecil yang sama, hanya saja lebih besar sekarang. pria yang ingin menangis tapi tak ingin air mata. dan membiarkan tetesannya bersembunyi di dalam hatinya, di balik kelopak matanya, di balik gelap ruangan.

No comments:

Post a Comment