Wednesday, May 11, 2011

1. Cantik Tentangmu



terlalu banyak yang cantik tentangmu,
terlihat gelap jalanku meraihmu.
semakin jelas khayalku tentangmu,
semakin ragu ikuti hasratku.

menunggu, berharap kau tau.
tertinggal, hilang kesempatan tuk menangkan... mu


untukmu yang cantik, pergilah.
rasakan cinta yang layak untukmu, bahagialah
jika masih ada waktu, aku akan kembali mencoba untuk meraihmu.


"lagu ini untukmu, semoga nanti kau tau... Puspita" kata Dilan dalam hati.

"seorang pria harusnya tidak bersembunyi di balik perasaannya kepada wanita" seorang teman berucap.

"ya, aku tau. tapi aku ragu kawan. aku tak bisa melihat sesuatu di dalam diriku yang bisa meyakinkannya. yang bisa kubanggakan untuk mencintainya" ucap Dilan sejenak menyandarkan dirinya pada lamunan si gadis.

"aku tidak akan bisa seperti orang-orang layaknya berpasangan. aku tidak bisa mengajaknya berbelanja, tidak bisa mengajaknya berkendara, tidak bisa mengajaknya makam malam di tempat romantis yang biasanya seorang wanita inginkan. aku tidak bermateri kawan" lanjutnya. dan kali ini dia membuyarkan lamunannya sebelum dia merasa semakin menyesal.

Dilan memang bukan orang yang berlebih, tapi dia tidak pernah merasa kurang karena dia percaya bahwa Tuhan Maha Baik dan dia bersyukur karena telah percaya pada Tuhan. Dilan bukannya tidak bermaterikan dunia, tapi dia yakin dia hanya belum diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk di amanahkan menjaga barang titipan.

"cinta tak harus berhiaskan materi kawan, bapakku berkata demikian" temannya mencoba menasehati.

"bapakku pun berkata begitu, tapi kapan bapakku dan bapakmu lahir?" dia menjawab agak sedih dan di dalam hati yang dia yakini adalah "cinta itu untuk orang berduit".

"cinta itu selalu relevan kawan, sampai akhir jaman" kata si kawan agak kesal.

"cintanya relevan, tapi opini publik tidak mendukungku kawan. tontonan di televisi dan perkembangan jaman membuat mereka berpikir bahwa berpasangan berarti saatnya wanita untuk menabung, karena ada pria yang membayar. tidak seperti jaman bapakku dan bapakmu dulu" jawab Dilan tenang.

"lalu, bagaimana dengan nanti? saat waktu memaksamu untuk berkeluarga" pertanyaan yang sepertinya Dilan sudah tau akan terucap dari mulut temannya.

"kau baca bait terakhir laguku? ya, aku akan kembali saat aku siap kawan. itu pun jika dia masih mencari. dan aku akan datang layaknya harta karun yang dia temukan di dasar laut... hahahahaha" jawabnya agak bercanda agar hati tidak terlalu sedih.

"mengapa tidak kau ajak dia untuk menjadi motivasi atau supporter misalnya? bukan sekedar inspirasi. kau akan tau bahwa seorang wanita benar-benar menyayangimu atau tidak, saat dia siap berdiri di belakangmu saat kau terjatuh kawan. dia harus yakin bahwa kau berharga dan siap menopangmu saat kau terlalu lelah kawan. dan dia akan menjadi satu dari beberapa orang kepercayaanmu yang akan tertawa puas melihat kau berhasil..."

"pasti bapakmu yang bilang" jawabnya sebelum sempat si kawan menyelesaikan ucapannya.

dan mereka menyelesaikan perbincangannya seiring tawa yang memenuhi ruangan, lalu hilang tertiup angin. bersamaan dengan datangnya khayalan tentang si cantik, bunga yang mekar di musim semi.

Puspita, bukan hanya inspirasi, tapi dia adalah motivasi. Dilan hanya tak ingin keterbatasannya menganggu hubungan mereka.
"biarkanlah aku hidupkan duniaku sebelum aku hidupkan dunia kami. itupun jika dia masih menerimaku ke dalam dunianya. jika nanti dia sudah membina dunianya bersama orang lain, mungkin aku hanya bisa menyesal". dan menyesal seharusnya bukan sekedar 'hanya'.


"karena terlalu banyak yang cantik tentangmu, aku takut merusak cantikmu" ucapnya dalam hati sebelum memenjamkan mata menikmati mimpi.

No comments:

Post a Comment