Wednesday, May 11, 2011
2. Selamat ulang tahun
selamat ulang tahun, kami ucapkan.
selamat panjang umur, kita kan doakan.
selamat sejahtera, sehat sentosa.
selamat panjang umur, dan bahagia.
sendiri Dilan duduk di dalam kamarnya, di sebuah ruang berukuran 3x3. tempat dia banyak menghabiskan waktunya. mencoba melupakan kapan terakhir dia mendengar lagu ini. mencoba melupakan notasi lagu dan mencoba menghapus syairnya dari daftar lagu favoritnya.
banyak yang dia pikirkan, 20 tahun dan semua terasa begitu cepat. rasanya baru kemarin dia berharap ada hadiah dan kue ulang tahun yang sudah disiapkan orang tuanya. dan lagu favorit yang selalu dinyanyikan dengan iringan gitar dari ayahnya. bahkan dia sempat menciptakan lagu ulang tahunnya sendiri. sebuah lagu yang di hadiahkan untuk seseorang yang menurutnya spesial. ya, untuk Puspita. lalu semua terasa aneh.
"ada apa denganmu dan ulang tahun kawan?" seorang kawan bertanya.
pertanyaan yang sama dan entah sudah berapa banyak yang diajukan beberapa teman kepadanya.
"tidak ada apa-apa, aku dan ulang tahun baik-baik saja" jawabnya.
"lalu kenapa kau tidak mau menyambutnya? apakah kau tak senang kedatangannya?" tanya si kawan lagi.
"aku sangat senang saat dia datang, karna kedatangannya membuatku ingat bahwa ada sesuatu yang bertambah sekaligus berkurang. memaksaku berpikir apa yang sudah salah kulakukan, apakah sudah berkembang apa yang benar kulakukan".
"lalu, kenapa tidak kau rayakan kedatangannya?" pertanyaan yang sama dan selalu sama.
"merayakan apanya?" bertanya Dilan agak heran.
"ya, merayakan kedatangannya. seperti orang-orang biasa lakukan. merayakan ulang tahun bersama teman, berbagi kesenangan. mungkin tidak perlu besar-besaran, cukup beberapa teman. atau keluarga saja misalnya" jawabnya yakin dan sepertinya berharap aku akan mengajaknya bersenang-senang.
"untuk apa merayakan kedatangannya?" Dilan ingin mendengar pendapat si kawan.
"mungkin lebih mengarah kepada rasa syukur karena kau masih diberikan kesempatan hidup dunia. dan mensyukuri dengan berbagi adalah baik" jawab si kawan dengan sangat yakin.
"bersyukur dengan berbagi itu memang baik. tapi bersyukur karena diberikan waktu untuk hidup di dunia? jika aku bilang "syukurlah aku masih bisa hidup di dunia" mungkin sama dengan kalimat "syukurlah aku belum mati". tapi itu menurut sudut pandangku" gantian Dilan berpendapat.
sebuah pertimbangan yang sebenarnya sederhana kenapa Dilan tidak merayakan ulang tahunnya atau memberi selamat kepada temannya. karena menurutnya ulang tahun itu datang setiap tahun, dan dia tidak pernah tidak datang. sama saja dengan detik, atau menit, jam, hari, atau minggu, dan bulan. tidak berbeda dengan kabisat, dia akan datang setiap empat tahun. dan 'setiap' itu tidak terlalu spesial untuknya. "hanya berbeda di angka saja" pikirnya.
dan secara tidak sengaja, si kawan telah mengembangkan pemikirannya. membuatnya yakin bahwa teman-temannya adalah bagian penting dalam hidup dan perjalanan pikirannya.
"mungkin lebih baik jika namanya di ganti menjadi hari merenung" ucapnya dalam hati.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment